Salah satu babysitter kami memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada kami karena dia merasa nggak enak harus sering pulang kampung untuk keperluan keluarga. Satu kali periode pulang kampung pasti sekitar semingguan. Sebelum dia memutuskan untuk pulang selamanya, aku sempet kesel juga kok ini BS bisa pulang pergi seenaknya. Sebelum 3 bulan saja, dia sudah minta cuti seminggu dan aku berikan, dengan perhitungan gajinya dikurangi uang cuti 2 hari dan gaji harian selama 5 hari. Eh pas bulan kelima, dia minta cuti lagi, kalau cuti itu untuk keperluan yang urgent sih, ngak papa. Tapi ini dikarenakan sepupunya akan merid dan dia harus pulang..terus minta seminggu pula. Kali ini cutinya aku tolak karena tgl dia minta cuti adalah tanggal-tanggal sibuk krn kami sedang ada pameran di IBCC. Dia minta cuti 2 minggu sebelumnya. Pada saat aku tolak, dia hanya senyum aja, eh tidak taunya sehari sebelum hari “h” dia kembali minta cuti untuk selamanya alias pulang. Dan aku terbengong-bengong karena tidak menyangka keputusannya bakal seperti ini. Terus terang aku tidak siap, karena aku memperkirakan kedua BS ini bakal bisa bertahan minimal sampai lebaran tahun ini. Kalau salah satu sudah minta pulang, aku harus cari yang baru lagi. Dan untuk cari yang baru dan cocok di bulan-bulan seperti ini sangat sulit.
Meski aku sempat kesal dengan segala kelakuan BS ku yang mau pulang ini, kok ada rasa sedih ya ditinggalkan olehnya. Apa karena aku sudah mengganggap dia adalah bagian dari keluargaku? Atau karena kasian pada Kevin krn tidak bisa bersama BS nya lagi? Pokoknya malam sebelum dia pulang, aku mengakui bahwa aku sedih dan tes tes tes…netes deh air mata ini didepannya…dan dia pun langsung berlalu dari hadapanku dengan tes tes air mata juga. Bagaimana pun, sepertinya aku sudah sayang padanya. Besoknya aku tak ingin menangis saat BS ku itu pulang, tapi tidak bisa. Tetap saja saat berpelukan, kami menangis lagi…duh..kok sentimentil begini ya? Padahal aku cukup “galak” pada dua BS ku itu. Tapi bagaimana lagi, perpisahan harus terjadi. Ya sudah, menangis dan saling memaafkan. Aku kasih selembar foto mich kev untuk kenang-kenangan.
2 hari berselang, aku dapat penggantinya. PRT yang ketemu di gereja. Seperti biasa, harus penyesusaian lagi. Dan buat anak-anak juga, kehadiran orang baru tidak akan bisa cepat diterima. Apalagi untuk kevin. Kalau mich, dia mau digendong, tapi tetap untuk urusan makan tidak mau. Butuh waktu 2-3 hari supaya PRT ini bisa dekat dengan anak-anak tapi meski sudah mau main dengan PRT nya, mereka tetap tidak mau disuapi. Untuk urusan makan, aku harus turun tangan bersama BS ku yang satu lagi. Aku tak keberatan sih, dulu juga aku menangani kedua anakku ini sendirian. Sekarang juga tak masalah. Cuma kalau anak-anak disuapi aku, pasti lebih lama dan kadang dilepeh terus. Tapi kalau sama BS ku, mereka mau makan dengan lancar. Waduh, jadi agak kacau ya. Untuk urusan minum susu juga, kalau aku yang memberikan pasti lebih lama daripada BS nya. Jadilah kerjaan BS ku dobel, ya urus RT, ya urus 2 anak juga tapi aku juga mendampingilah. Sama-sama saling membantu. PRT yang membantu kami cuma satu minggu saja, alasannya dia mau pulang krn ibunya sakit…belakangan ketauan kalau dia kembali bekerja di majikannya yang lama (sebelumnya dia mohon kerjaan padaku krn majikan lamanya galak sekali). Aku masih ketemu sama mantan PRT ku ini di gereja dan aku agak sebal krn aku ngerasa dia berbohong padaku. Tapi ya sudahlah, kalau sdh tidak mau kerja, kan percuma juga ditahan-tahan.
Sebelum PRT ku pulang, aku sudah berusaha cari pengganti, entah itu BS lagi atau PRT. Dan dari semua yayasan atau kenalanku, semuanya mengatakan tidak ada alias nggak ada stok. Wah bisa berabe nich, lalu aku pikir apa ngak sebaiknya aku menghubungi BS ku yang sudah pulang. Siapa tau dia mau balik lagi krn sebelum dia pulang, aku pernah bilang, kalau sampai aku tidak ketemu pengasuh yang tepat, aku mau dia datang lagi dan dia pun mengiyakan. BS ku itu mau kembali hari senin, sehari setelah PRT ku pulang….tapi ternyata senin subuh, katanya kakeknya meninggal dan baru bisa ke Bandung hari Jumatnya. Wah…5 harian nich, berarti baik aku maupun BS ku akan super sibuk donk. Karena pekerjaan yang biasanya ditanggung 3 orang, kini hanya dua orang saja.
Aku pikir aku butuh BS ku yang sudah pulang itu mengingat begitu susahnya mencari BS atau PRT yang baru, maka aku setuju saja ketika BS ku yang pulang itu mensyaratkan kalau dia akan cuti kembali bulan July dan dia baru bisa balik lagi hari Jumat. Ya sudahlah, aku akan menerima dia kembali. Kacian juga dengan BS ku yang masih ada di rumah. Dia bilang kalau cuma sementara kerja sendirian sih masih kuat, tapi lama-lama bisa nggak tahan. Kami memutuskan untuk memberi insentive sebesar 100 ribu atas kerja kerasnya selama dia bekerja sendirian. Dan dia pun setuju. Aku pikir reward seperti itu perlu sebagai tanda kita menghargai pekerjaannya. Ketika hari senin sesuai janji awal dengan BS yang pulang itu terlewati, BS ku yang di rumah kuminta bersabar saja sampai hari jumat. Jika sampai jumat tidak datang juga, maka akan dicarikan BS yang lain. BS ku yang di rumah ini tidak tau, kalau temannya kelak adalah BS yang lama. Sengaja kurahasiakan dengan rapi sekedar memberi kejutan untuknya saat BS ku kembali lagi
Hari jumat malam, BS ku belum datang juga krn jalanan sangat macet. BS yg di rumahku sudah nggak enak hati kayanya. Tapi begitu datang, aku suruh BS ku yang membuka pintu…dan guess what, begitu tau siapa yang datang, duh BS ku tak henti-hentinya tersenyum. Aku senang, sedikit kejutan untuk BS ku yang di rumah.
Dan sekarang, kembali seperti semula. Aku dengan kedua BS yang sudah sangat mengerti segala kemauanku dan anak-anak. Dan aku berusaha memaklumi sebisa mungkin jika ada sesuatu yang salah dari kerjaan mereka. Aku tidak mau marah-marah lagi, bukan karena aku takut kehilangan BS ku ini tapi lebih karena aku ingin lebih menghargai pekerjaan mereka dalam mengurus anak dan rumah tangga. Selama semuanya masih dalam batas yang toleran, aku tidak akan memarahi mereka seperti dulu lagi. Tapi tidak memarahi bukan berarti tidak ada perbaikan jika ada sesuatu yang salah. Aku tetap akan memberitahu mereka tapi dengan cara yang lebih halus. Selain untuk menghargai mereka, juga untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Toh mereka juga sudah mengerti segala aturan dan keinginanku.
Pada saat lebaran nanti, aku sudah menyiapkan bonus untuk satu BS ku yang tidak pernah cuti sampai saat ini. Rencannya bonusku adalah 1 juta dan diberikan saat dia balik lagi bekerja denganku lagi. Sedangkan untuk BS ku satunya, bonus tidak akan sebesar itu. Setelah lebaran, aku juga tidak tahu kondisinya bakal seperti apa. Yang jelas aku ingin BS yang aku beri bonus besar balik lagi, sementara yang satunya lagi, entahlah. Karena taun depan dia bakal kawin.